Pragmatisme Menjalari Kita

Siswa yang mencontek saat ujian dan mahasiswa yang hanya mengejar titel dan ijazah adalah contoh kecil dari pragmatisme dalam konteks negatif yang banyak ditemui di sekitar kita. Ironisnya hal-hal tersebut terjadi dan dipupuk semenjak di dunia pendidikan yang justru diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang utuh dan bermarwah.

Pragmatisme yang dimaksud disini adalah sikap hidup yang mengutamakan tujuan praktis atau berfokus pada hasil. Orang yang pragmatis akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan. Pragmatisme dalam makna negatif itu tersebut tentu bukan hal yang baik dan harus dihindari.

Pragmatisme disebabkan banyak faktor. Satu diantaranya adalah tuntutan yang terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kemampuan individunya. Tuntutan setiap orang tua adalah agar anak mereka mendapatkan nilai yang bagus di semua pelajaran. Orang tua kadang jarang memahami betapa sulitnya bagi anak untuk menguasai 8-10 mata pelajaran di sekolah sekaligus.

Besarnya tuntutan ini menimbulkan kecenderungan siswa untuk mencontek PR atau jawaban kepada temannya saat ujian. Orang tua harusnya memahami bahwa mereka bukanlah robot. Mereka adalah makhluk tuhan yang unik dan memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Menyadari hal tersebut, setiap orang tua baiknya mampu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan anaknya di sekolah, mengetahui minat dan bakatnya agar ia bisa memaksimalkan potensi di bidang yang ia sukai.

Selanjutnya, pragmatisme juga disebabkan oleh keengganan seseorang untuk bekerja keras dan menginginkan hasil yang instan. Pernah beredar berita bahwa ada beberapa kampus di Indonesia yang di non aktifkan oleh DIKTI dengan alasan adanya masalah legalitas. Kampus-kampus bodong inilah surga para pragmatis yang menginginkan titel pendidikan sarjana bahkan magister tanpa perlu kerja keras dan berlelah-lelah kuliah. Dengan membayar uang sejumlah sekian rupiah mereka tinggal wisuda dan mendapatkan ijazah sesuai yang diinginkan. Namun sejatinya para pragmatis semacam ini tidak hanya ditemukan di kampus-kampus bodong saja. Di kampus yang legal dan bahkan negeri pun mereka ada. Mereka mengabaikan esensi mencari ilmu itu sendiri. Mereka jarang membaca, mengerjakan tugas dengan copy paste atau menyalin dari teman tapi ingin nilai A.

Mereka harusnya malu kepada diri mereka sendiri saat wisuda kelulusan nanti. Apakah mereka sudah pantas menyandang gelar sarjana sedangkan ilmu yang mereka dapati di perguruan tinggi amatlah sedikit. Apalagi bagi mereka yang membeli ijazah, mereka sama sekali tidak pantas untuk gelar tersebut.

Jika mereka tidak segera berubah khawatirnya perilaku-perilaku tersebut tetap bertahan hingga menjadi jati diri dan kepribadiannya yang akan mustahil untuk dirubah. Mereka akan selalu mencari cara untuk curang dan sama sekali tidak menghargai proses.

Sekarang marilah kita lihat diri kita sendiri. Memilih hal yang paling mudah untuk dilakukan memang manusiawi untuk membuat langkah kita lebih efektif. Tapi mencari jalan pintas dan tidak mau bekerja keras justru menghilangkan esensi dari mencapai tujuan kita itu sendiri. Marilah berproses karena sesungguhnya selalu ada rasa manis dibalik kepahitan, dan ada suka cita dibalik kegetiran.

Kosan bu Jarwo, 14:00 WIB

Pragmatisme Menjalari Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s