Upacara Seren Taun atau Sedekah Bumi: Antara Pelestarian Budaya dan Potensi Praktik Syirik

Upacara seren taun atau sedekah bumi ini sebenarnya dilakukan di banyak tempat di Indonesia bukan hanya di tanah pasundan. Hal ini dikarenakan profesi masyarakat Indonesia yang mayoritas petani.

(Dokumentasi pribadi teman)

Ritual ini berawal dari upaya nenek moyang kita untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang mereka dapatkan selama setahun ke belakang. Maka dari itu dalam upacara ini masyarakat selalu membawa hasil bumi mereka berupa padi, jagung, sayuran, buah-buahan dan lain sebagainya.

Praktik ini perlahan berubah setelah datangnya Islam. Yang biasanya menggunakan istilah “seren taun” (kalau di Sunda) sekarang diganti menjadi “sedekah bumi” yang artinya bersedekah dalam rangka bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan baik itu dalam bentuk hasil bumi, kesehatan, dan keamanan. Pengaruh Islam lainnya yaitu dihilangkannya unsur-unsur syirik atau yang menyekutukan Allah seperti penggunaan kemenyan, memohon kepada leluhur atau dewa, dan penggunaan sesajen. Hari pelaksanaannya pun sekarang tidak selalu harus setelah musim panen, namun biasanya dilakukan pada tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam.

Dengan semangat untuk melestarian budaya, tiga tahun belakangan ini desa saya selalu mengadakan upacara seren taun atau sedekah bumi tersebut. Dimulai dengan Istigosah atau doa bersama pada malam 1 Muharramnya dan sedekah bumi pada pagi harinya. Setiap Dusun dan RT menyumbangkan makanannya dan hasil buminya untuk dihias dan diarak menuju kantor Balai Desa. Sesampainya disana para tetua memimpin doa dan setelahnya masyarakatpun diperbolehkan memakan semua makan dan hasil bumi tersebut.
Saya sungguh mengapresiasi upaya masyarakat khususnya pemerintah Desa terhadap kegiatan ini. Pertama, karena desa kami kembali bergairah dengan adanya kegiatan tersebut. Gotong royong kembali terasa ditengah-tengah masyarakat. Mustahil upacara yang begitu meriah hanya dikerjakan oleh aparat desa tanpa ada kerjasama dari masyarakatnya. Gotong royong adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Selanjutnya, sedekah bumi mengandung nilai edukasi. Anak-anak sekarang bisa kembali lagi mengenal budaya asli daerahnya yang telah lama dikalahkan oleh pengaruh budaya asing yang kian hari kian menguat.

(Dokumentasi pribadi teman)

Namun disamping itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan baik itu oleh penyelenggara atau masyarakatnya itu sendiri sebagai peserta. Pertama dan yang utama adalah masih adanya potensi praktik syirik dalam upacara sedekah bumi ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya kemenyan dan kereta kencana. Apa sebenarnya guna kedua benda tersebut kalau bukan untuk hal yang berbau syirik? Lagipula tanpa kedua hal tersebut sedekah bumi tidak akan kehilangan esensinya. Kedua, adanya unsur kemubadziran. Sesaat setelah doa selesai banyak warga yang berburu gunungan. Banyak makanan dan hasil bumi yang ada di gunungan tersebut malah tidak dimakan dan dibuang begitu saja. Akibatnya sampah berserakan dimana-mana. Hasil bumi yang seharusnya disyukuri malah di sia-siakan. Hal ini tentu kontra produktif dan bertentangan dengan esensi kegiatan sedekah bumi itu sendiri. Selanjutnya, “sedekah” adalah terminologi Islam yang artinya kurang lebih mendermakan sebagian harta, tenaga, ilmu, pikiran dan lainnya untuk orang lain dan diniatkan untuk mendapatkan pahala. Jadi baiknya iuran untuk kegiatan ini tidak disamaratakan dan harus disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan. Karena kembali lagi ke definisi di atas, sedekah tidak harus harta. Terakhir, penting juga untuk dipahami bahwa upacara ini bukanlah bagian dari ajaran agama jadi tidaklah berdosa jika tidak melaksanakan atau berpartisipasi dalam kegiatan ini. Namun tentu ini merupakan kekayaan budaya kita yang harus dilestarikan.

(Dokumentasi pribadi teman)

Tugas kita bersama untuk saling mengingatkan dan bekerja sama dalam kebaikan. Namun kita tentu harus berhati-hati akan banyak hal. Karena kehilangan budaya artinya kehilangan identitas. Kehilangan akidah artinya kehilangan masa depan (akhirat).

 

Stasiun Cirebon Prujakan, 01:30 WIB.

Upacara Seren Taun atau Sedekah Bumi: Antara Pelestarian Budaya dan Potensi Praktik Syirik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s