Duri diri

Nak

Kau tak perlu mencoba 

Kau hanya harus mendengar

Perilakumu pada sesamamu adalah dirimu yang sebenar

Tunjukkanlah isi kepalamu

Bukan untuk mengadu apalagi memburu 

Tapi untuk mendengar agar kau menjadi besar

Jangan percaya amarahmu

Karena ia adalah air yang sewaktu waktu tenang namun seringnya menyerang

Hiduplah dimana kebahagiaanmu menuntunmu

Jika kau tak kunjung menemukannya tanyalah ayah ibumu

Jangan tanyakan dimana ia tapi tanyalah bersama siapa ia berada

Nak

Durimu adalah dirimu

Maka kau kan tahu seberapa besar kehendakmu

Advertisements
Duri diri

Cacilah

Biarkan ku sendiri

Membelah sunyi dengan fikiranku yang memberontak

Menolak paksaan dan cibiran murahan

Tak ada satupun yang berhak menertawakan pilihan hidupku

Sekalipun itu bintang 

Yang menghiasi malamku di kala sepiku menyerbu

Sekalipun itu bulan

Yang menemaniku saat lelap merayuku

Tidakkah itu mudah?

Untuk tidak terlibat dengan segala omong kosong yang hanya membuatmu lupa untuk apa kau berlari

Sadarlah wahai hati

Betapapun sulitnya akhirnya pun kau mengadu

Bukan pada bapakmu

Tapi pada tekadmu yang menggeretmu kemari

Yang telah menuntunmu hingga ke timur

Untuk sekedar menggerutu tentang sulitnya mencari angkot disini 

Marilah tidak peduli

Pada hal yang tak memberimu apa apa selain kebisingan dan drama

Marilah mencaci maki

Pada hal yang kau benci tapi kau simpan sendiri

Lantanglah pada heningnya malam

Sunyilah pada ramainya siang

Maka kau kan temukan dirimu disana

Bukan di rumah makan atau tempat hiburan mewah

Namun pada kokohnya langkah yang kau pilih sebelum akhirnya kau putuskan menyerah

Cacilah

Berlayar dalam Rindu

Rindu adalah tipu

Kadang serpihnya tercecer dan melukai kaki yang siap melangkah

Mengurungkan niat yang terlanjur terbentang 

Melayukan kembang yang hendak mengembang

Namun 

Kadang rindu mengenyangkan jiwa yang hanya sekedar ingin mengenang

Menerawang jauh ke masa lalu saat ia terlalu naif untuk menyesal dan terlalu angkuh untuk meminta maaf

Rindu adalah yang membuatmu terasing dalam keakraban

Terpaksa membuatmu tersenyum meski angan sudah tak lagi milikmu

Jika rindu terdiri dari jarak dan kenangan

Apa jadinya kita yang hanya berjarak satu sentuhan telunjuk

Apa jadinya kita yang kenangannya terlanjur hanyut oleh masa lalu yang kau larang untuk kusebut

Rindu tak mau tau

Datang begitu saja seperti penagih utang berwajah gusar

Utang canda dan selfie yang belum ku bayar

Menunggu hari baik agar segera kita berlayar

Berlayar dalam Rindu

Kata

Puisi adalah anak-anak rohaniku

Yang nakal dan berlarian tak tahu waktu

Kadang mengasamkan kopiku

Tak jarang pula menumpahkannya ke wajahku

Puisi adalah caraku mempermalukan diri

Ditengah kerumunan yang tak peduli

Adalah liar kata-kata itu

Membuatku kadang haru kadang pula malu 

Aku tak mau terjebak dalam rima

Tapi sulit ternyata

Ah biar begini saja

Yasudah

Kata

Kadang

Hidup 

Kadang membusung

Kadang merenung

Kadang menyusun batu bata cita

Kadang pasrah merelakan harta benda terhanyut gelombang duka

Kita tak pernah tau mana yang lebih baik untuk kita

Hingga akhirnya kita cukup pandai mengosongkan ego dan keangkuhan

Untuk melihat realita yang tak pernah luput menguji kesabaran  

Pada akhirnya kita butuh sekedar bahu dan wajah untuk bercerita

Memuntahkan semrawut rasa yang menumpangi alam fikir kita

Yang bahkan sebenarnya kita tak pernah rela untuk berbagi meja dengannya

Puisi tentang duka

Adalah puisi tentang asmara

Karna bukankah mencintai tak jarang pula berujung luka?

Kadang

Yang kau pilih

Duhai hati yang tak kunjung berlabuh

Diantara ribuan kebahagiaan

Berbagialah bersama yang kau pilih

Berbahagialah dengan kesederhanaan cintanya hingga kau tak ingin lagi beranjak 

Karna ke rumahlah pada akhirnya kau menuju  

Pada canda 

Pada tangisnya

Karna luka pada akhirnyapun akan mengering 

Sekering rerumputan musim kemarau dan akhirnya mati

Pasrahlah

Karna paksaan menutup kebahagiaan dari segala arah

Tak menyisakan celah untuk mencoba 

Kemarin

Kemari

Esok

Tak perlu kau risau lagi

Yang kau pilih